Menunggu Sang Pencerah
Beberapa waktu lalu, ibu saya yang baru saja pulang dari Yogyakarta usai menghadiri muktamar Muhammadiyah ke 46 membawakan saya sebuah novel. Judulnya Sang Pencerah. Hei, terdengar tak asing. Dari beberapa media juga saya telah mendengar kalau Hanung Bramantyo sedang membuat film tentang KH Ahmad Dahlan yang berjudul Sang Pencerah.
Benar saja, ternyata novel ini merupakan karya adaptasi dari skenario film Sang Pencerah. Novel ini ditulis oleh Akmal Nasery Basral, penulis yang pernah merilis novel Imperia dan Nagabonar Jadi 2.
Ibu saya banyak bercerita tentang suasana Muktamar Seabad itu, di akhir ceritanya ia menyarankan saya untuk membaca novel itu jika sempat. Ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun lalu ketika saya bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah di Pamulang. Ada pelajaran Kemuhammadiyahan yang tentunya berisi materi segala hal tentang Muhammadiyah. Meski pelajarannya menarik, entah kenapa saya tak terlalu antusias mengikutinya. Justru pengetahuan Kemuhammadiyahan lebih banyak saya dapatkan ketika aktif di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) semasa SMP.
Saya baru membaca novel itu kemarin dan baru menyelesaikannya hari ini, ketika saya istirahat seharian di kamar karena terserang flu. Saya sudah lama tidak membaca novel dengan kisah epik seperti ini, beberapa tahun belakangan saya cenderung membaca novel kontemporer selain lebih banyak mengkonsumsi non fiksi.
Sebelum membaca novel ini, saya sudah terlebih dulu melihat trailer film Sang Pencerah. Saya makin antusias karena mengetahui aktor yang memerankan KH Ahmad Dahlan adalah Lukman Sardi, salah satu aktor Indonesia favorit saya. Otomatis ketika mata saya menelusuri baris demi baris novel itu, kepala saya turut membayangkan kisah ini saya saksikan di layar lebar.
Saya menyadari setelah lulus SMP dan tidak aktif lagi di IRM, saya kurang begitu mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, selain membaca kiprahnya di media-media atau membantu ibu saya menyusun bahan ajar guna mengajar di UMJ (Univ Muhammadiyah Jakarta). Setelah membaca novel ini, terbesit keinginan saya untuk turut aktif lagi di salah satu organisasi otonom Muhammadiyah. Entah akan terlaksana lagi atau tidak nantinya.
Film Sang Pencerah sendiri rencananya akan dirilis ketika libur Idul Fitri tahun ini. Novelnya yang seru, ditulis dengan baik dan kaya akan referensi, serta trailernya yang terlihat epik membuat saya sedikti tak sabar untuk segera menyaksikan filmnya di layar lebar. Sebagaimana judulnya, saya juga berharap kalau filmnya juga akan mencerahkan
Filed under: Movie | 3 Comments





wah jadi pengen baca nih,,makasih infonya,,,salam hangat…
terima kasih tanta sudah membaca novel ini, salam juga buat ibunda.
Wah penulisnya yang berkomentar langsung
Sama-sama Mas Akmal, terima kasih juga atas karyanya yang mencerahkan. Sukses selalu dan ditunggu karya-karya lainnya