Beberapa waktu yang lalu, Bentara Budaya Jakarta mengadakan pameran bertajuk ”WARISAN BUDAYA TIONGHOA PERANAKAN”. Selama pameran berlangsung, juga diadakan acara pemutaran film-film dan seminar mengenai masalah budaya/ akulturasi Tionghoa Peranakan di Indonesia.

Selasa kemarin, 20 Januari 2008, saya bersama Kaut menyempatkan pergi ke pameran itu untuk menonton pemutaran film-nya. Daya tarik utama kami datang adalah karena film Babi Buta Yang Ingin Terbang yang disutradarai oleh Edwin termasuk dalam setlist screening. Kami begitu penasaran akan film itu karena dalam beberapa kali kesempatan kami gagal menontonnya, terutama ketika film itu diputar di Kineforum beberapa bulan yang lalu. Selain Babi Buta, juga diputar beberapa filmnya Ariani Darmawan yang banyak bercerita tantang budaya dan keseharian Tionghoa peranakan di Indonesia. Kebetulan ketika kami datang mbak Ariani sedang diwawancarai oleh Husnil, senior kami di HMI Ciputat yang ternyata kini bekerja di majalah Madina.

Filmnya Edwin.
Perkenalan pertama saya dengan film karya Edwin adalah ketika saya membeli VCD kompilasi Indonesia Raja pada Jiffest tahun 2003. VCD itu didistribusikan oleh Minikino dan didalamnya terdapat beberapa film pendek yang menurut saya sangat menarik, salah satunya adalah film Edwin yang berjudul A Very Slow Breakfast, yang mengisahkan dinginnya formalitas sarapan pagi dalam sebuah keluarga. Setelah itu dalam beberapa kesempatan saya kembali menikmati film-filmnya yang lain seperti Dajang Soembi: Perempoean yang Dikawini Andjing, cerita teatrikal tentang legenda Dayang Sumbi, dan Kara, Anak Sebatang Pohon, yang memaparkan pesan tentang kapitalisme. Saya masih belum berkesempatan menonton filmnya yang lain, A Very Boring Conversation. Maybe next time.

Image is taken from : www.babibuta.com

Kembali ke Babi Buta Yang Ingin Terbang. Jujur, saya masih kesulitan menangkap substansi dari film ini. Sedikit banyak tidak seperti apa yang saya harapkan sebelumnya. Mungkin saya harus menontonnya beberapa kali lagi untuk dapat lebih memahaminya. Jadi, belum banyak yang bisa saya ceritakan selain beberapa adegan dan dialog yang menurut saya keren.

Misalnya, pada opening film yang menyajikan pertandingan bulutangkis putri antara Indonesia vs Cina yang  ditampilkan slow motion. Lalu terdengar suara anak kecil bertanya kira-kira seperti ini, “Ini yang Indonesia yang mana bu?”

Atau ketika tokoh Linda kecil bertanya kepada Cahyono, sahabatnya.
”Nanti kalau kamu sudah besar, kamu mau jadi apa?”
”Apa aja deh, asal bukan Cina..”

Begitulah, pokoknya nanti harus nonton film ini lagi. Hehe.

Filmnya Ariani Darmawan.
Film Ariani yang pertama menyapa saya adalah The City of Desire, film pendek yang juga termasuk dalam setlist VCD kompilasi Indonesia Raja. Lalu film-filmnya yang lain baru saya tonton pada pameran ini.

Anak Naga Beranak Naga, dokumenter yang menceritakan akulturasi budaya Cina dengan pribumi terutama Betawi dalam bentuk kesenian Gambang Kromong. Film ini menggambarkan bagaimana sejarah bangsa Cina di Batavia, terutama kaum menengah ke bawah, yang terusir hingga ke wilayah selatan Jakarta seperti Bogor dan Tangerang. Mereka menyatu dengan masyarakat setempat hingga sekarang. Disisi lain, Ariani menyiratkan keprihatinan hampir musnahnya kesenian Gambang Kromong hasil akulturasi ini akibat putus generasi karena minimnya generasi muda yang tertarik mempelajari Gambang Kromong.

Lalu ada The Anniversary, film pendek yang bercerita tentang dingin dan muramnya potret suami istri yang dikisahkan dalam setting sebuah lift, dan Sugiharti Halim, film pendek tentang seorang wanita keturunan tionghoa yang mempertanyakan namanya yang dibuat-buat seperti nama Indonesia.

Image is taken from : http://9808films.wordpress.com/

Menyenangkan kembali menikmati pemutaran film di Bentara Budaya. Sudah lama saya tidak pergi kesitu. Sayang perpustakaannya sudah tidak ada. Padahal asik sekali menghabiskan waktu membaca buku seharian disana.


Saya baru menyadari kalo di soundtrack The Science of Sleep ada satu lagu yang bener-bener menghanyutkan. Sebelumnya saya terlalu fokus sama lagu If You Rescue Me. Lagu itu adalah Golden The Pony Boy, dinyanyikan oleh Kimiko Ono.

Dalam film The Science of Sleep, Golden The Pony Boy adalah nama sebuah boneka kuda milik Stephanie. Dia menamakannya demikian ketika Stephane melihat boneka kuda itu dan menanyakan namanya kepada Stephanie. Sebenarnya boneka kuda itu tidak memiliki nama tapi Stephanie langsung menyebut Golden The Pony Boy. Ia terinspirasi dari rambut pony-nya Stephane. Sayang Stephane tidak menyadari kalau ia menjadi inspirasi pemberian nama kuda itu.

Here is Golden The Pony Boy :

Picture is taken from http://www.director-file.com/gondry/

Here is the song’s lyric :

Cotton and cardboard, cellophane and paper, thread, needle to employ,
All felt and fabric, birds fly and cats play.
Golden the pony boy,

Made out of cloth and standing so still, just like a simple toy.
Gray as the sky on a day without sun,
Golden the pony boy.

Screwdrivers, rubber bands, glue guns and pliers, tools to create or destroy.
Patiently waiting, un-calculating,
Golden the pony boy.

Flying wheels and coloured reels,
Spin into motion,
Bringing him lots of joy,
Trot, canter, gallop,
Over land and sea,
Golden the pony boy



Sejauh ini September 2008 bukanlah bulan seperti yang gue harapkan sebelumnya. Unexpected.

Awalnya gue sangat menantikan bulan ini karena tepat tanggal 1 September 2008 gue mulai menjalani masa kuliah lagi di Manajemen Komunikasi UI. Kuliahnya menyenangkan meski membingungkan, maklum udah lama ga belajar ilmu sosial yang abstrak-abstrak hehe. Teman-teman sekelas juga menyenangkan ditambah suasana perkuliahan yang cukup kondusif dan dosen yang pintar-pintar.

Baru seminggu menjalani rutinitas kuliah gue terserang penyakit. Tepat ketika pulang ke rumah setelah kuliah terakhir minggu pertama (hari kamis) gue demam, badan panas, tulang ngilu-ngilu dan muncul bintik-bintik di lengan. Gue curiga kalo ini gejala demam berdarah, pergilah gue ke dokter esoknya. Ternyata, gue kena penyakit yang  datang benar-benar pada waktu yang tidak tepat. Kata dokter gue kena virus varicella zoster, ya benar sodara-sodara, gue kena cacar air. Ini bukan penyakit yang terlalu berbahaya namun cukup menyita waktu proses penyembuhannya. Sampai saat ini gue sudah 2 minggu absen kuliah, itu berarti 2 sesi untuk masing-masing mata kuliah. Ketinggalan materi cukup membuat kepala pusing berpikir bagaimana mengejarnya. We’ll see lah, semoga bisa masuk secepatnya.

Kena cacar di bulan September juga berarti gue melewati hari ulang tahun bersama si varicella zoster ini. Untungnya setelah diopname sekitar seminggu gue bisa pulang tepat di hari ulang tahun gue, Senin 15 September kemarin. Sorenya Kaut menjenguk gue sambil ngajak Ano, Ezy, Irfan dan lalu menyusul Diah dan Adrie. Thanks a lot honey, you gave me a nice cardigan for the birthday gift. Really love it Kautsarina ^ ^

Satu hal yang juga cukup menyesakkan, kabar buruk dari Anfield. United dikalahkan Liverpool, first time in the last 3 years. Congrats for Rafa then. Setelah itu United ditahan imbang Villareal di Old Trafford. Menambah trend lambannya start United di awal musim ini. Sedihnya juga gue ga bisa gabung sama anak-anak United Indonesia untuk nonton bareng di MU Cafe. Padahal udah dari jauh-jauh hari niatin dateng. Gue pesimis bisa kembali nonbar minggu ini ketika United kembali berjumpa Chelsea di Stamford Bridge, tapi setidaknya gue berharap game lawan Chelsea  bisa menjadi turning point United untuk kembali berlari dalam maraton BPL musim ini. Apalagi terbuka kesempatan United untuk menghentikan unbeaten records Chelsea di Stamford Bridge. Believe.

Well, bulan September masih tersisa sepertiga-nya. Dan gue berharap it turns to be a nice September that i expected. Great ramadhan meski gue baru puasa 7 hari hehehe.


Blog ini mati 9 bulan lamanya. Terakhir kali gue menulis sekitar bulan desember 2007 ketika lagi seru-serunya liburan dengan nonton JiFFest. Setelah itu gue meninggalkan semua aktivitas yang ga ada hubungannya sama skripsi.

Ya, mulai Januari 2008 gue coba konsentrasi sama skripsi yang lama tertunda.  Alhamdulillah skripsinya telah selesai dan gue lulus sidang tanggal 12 Juni 2008, lalu wisuda sebulan kemudian. Resmilah gue menyandang gelar Sarjana Komputer.

And then, what am i doing right now?

Sekitar bulan april ketika lagi stuck sama skripsi, gue ngeliat UI lagi membuka pendaftaran mahasiswa pascasarjana. Sialnya gue belum lulus sehingga ketinggalan gelombang pertama. Maka begitu mengetahui ada penerimaan gelombang kedua yang dilaksanakan di bulan Juli, gue mulai termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi. Gue kebut skripsi dalam waktu 2 bulan hingga gue lulus dan bisa daftar pascasarjana di UI. Alhamdulilah lagi gue diterima walau awalnya sangat pesimis karena tes masuknya yang buat gue cukup sulit.

Well, here i am. Gue kembali menjadi mahasiswa. Kalau ketika S1 gue mempelajari IT di jurusan Sistem Informasi, di S2 ini gue kembali ke cita-cita lama gue untuk mempelajari social science dengan Ilmu Komunikasi. Beberapa teman dan dosen menyayangkan keputusan gue karena bidang ilmu yang tidak linear. Tapi gue yakin bahwa semua ilmu akan bermanfaat. Pertimbangan utama gue memilih bidang ilmu ini adalah karena minat, satu hal yang bukan merupakan pertimbangan utama gue ketika dulu kuliah S1.

Beberapa waktu lalu, ketika baru lulus, masih samar-samar apa yang menjadi tujuan gue ke dapan. Namun pelan-pelan gue mulai menemukan apa kiranya yang akan gue capai dengan apa yang sedang gue lakukan saat ini. I dont think i can explain about it yet, just let it flow for a while.


Di hari kedua ini, Minggu 9 Desember 2007 gue dan Kaut nonton dua film. The Blossoming Of Maximo Oliveros (Philiphines) di Kineforum dan 2 Days In Paris (France) di Djakarta Theater. Rencananya sih mau nonton Saimir (Italy) juga di Erasmus Huis tapi karena gue kecapekan karena paginya main futsal jadi ya cukuplah dua film :)

==========

The Blossoming Of Maximo Oliveros

Director : Auraeus Solito / Casts : Nathan Lopez, JR Valentin, Soliman Cruz, Ping Medina / 2005 / Philippines / Comedy/Drama / 100 Min / English/Tagalog (with English subtitles)

Maximo Oliveros, atau biasa dipanggil Maxi adalah bungsu dari tiga bersaudara yang tinggal dengan ayah mereka di sebuah perkampungan kumuh di Manila. Ibu mereka telah lama tiada. Ayah Maxi dan kedua kakaknya berprofesi sebagai pencopet, sedangkan Maxi yang bersikap kecewek-cewekan berperan sebagai ibu dalam keluarga mereka. Mencuci baju, piring, memasak atau membereskan rumah ia lakukan dengan riang dan penuh tanggung jawab.

Sebagai anak yang loyal pada keluarganya ia kerap menutupi jejak ayah dan kedua kakaknya ketika terlibat kasus pencurian. Namun hidupnya mulai berubah ketika Maxi bertemu dengan Victor, seorang polisi tampan yang sedang mengusut kasus-kasus kriminal di lingkungan mereka. Ya, Maxi jatuh cinta pada Victor si polisi tampan.

Selanjutnya cerita beranjak pada usaha Maxi merebut hati Victor. Hingga pada suatu saat ia kehilangan orang yang dicintainya sehingga harus menerima kenyataan pahit. Dan untuk itu ia berusaha tetap tegar menjalani hidup yang lebih baik.

Untuk sebuah film free screening, film ini oke banget. Film Filipina kedua yang berhasil membuat gue terpukau. Yang pertama adalah Bridal Shower yang gue tonton pada JiFFest 2003 atau 2004 lupa gue kekeke. Kehidupan unik yang dijalani pemuda tanggung yang bersikap girly ini membuat nuansa tersendiri pada khazanah film-film yang selama ini gue tonton, meskipun pada beberapa bagian film gue tertidur karena capek abis main futsal :D Another great movie from Philiphines.

===========

2 Days In Paris

Director : Julie Delpy / Casts : Julie Delpy, Adam Golberg, Daniel Brühl, Marie Pillet, Albert Delpy / 2007 / France-Germany / Comedy-Drama-Romance / 96 Min / English-French (with english subtitles)

Marion, seorang fotografer berkebangsaan Prancis dan pacarnya Jack, seorang desainer interior warga Amerika sedang berusaha menghangatkan kembali hubungan mereka dengan berlibur keliling eropa. Namun perjalanan mereka di Venice tidak berlangsung seperti yang mereka harapkan. Untuk itu sebelum kembali New York mereka mampir di Paris, kota kelahiran Marion untuk tinggal bersama orangtua Marion selama dua hari. Dan dua hari ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk memperbaiki hubungan.

Nah, inti film ini adalah apa yang terjadi pada hubungan mereka selama dua hari. Melihat sepasang kekasih yang sedang mencari arti hubungan itu sungguh menggelikan dan menyejukkan. Apalagi kisah bergulir pada Marion yang secara kebetulan bertemu dengan mantan-mantan pacarnya semasa muda dulu. Muncul kecemburuan Jack yang ia ungkapkan dengan cara yang unik.

Dialog-dialog dalam film ini sungguh lucu sekaligus menggemaskan. Simak adegan ketika Jack makan malam bersama kedua orangtua Marion. Ayah Marion menawarkan kelinci panggang dengan tambahan sepotong wortel. “Ow, so we eat bunny with bunny food either ?” kata Jack. Wakakaka kocak abiss. Atau kekesalan Jack ketika berantem dengan Marion di tepi kanal yang indah. “Ooh we’re not in Paris!! We’re in helll!! ” teriaknya. Bahkan situasi dimana Jack dan Marion berseteru meminta sex position paling enak. Yeah, she wants on top, but Jack wants from behind kekekeke.. :D

Melihat nama Julie Delpy sebagai director film ini? Does it sounds ring a bell? Yup you right, that’s Julie Delpy who played with Ethan Hawke in Before Sunset and Before Sunrise. Dua film dengan tema perjalanan, mirip dengan 2 Days in Paris. Rupanya Julie belum cukup puas sehingga buat gue 2 Days in Paris sedikit banyak seperti sekuel dari Before Sunrise.

Tapi ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan antara Before Sunset dan Before Sunrise dengan 2 Days in Paris. Kalau dua film pertama itu memiliki alur lamban dengan dialog santai dan substantif. 2 Days in Paris adalah versi lain yang lebih dinamis dan nge-pop namun tidak serta merta kehilangan dialog santai dan substantifnya. Lalu kenyataan bahwa 2 Days in Paris memiliki beragam karakter yang cukup kompleks namun tidak membuat film ini bergeser dari titik fokusnya. Berbeda dengan Before Sunset dan Before Sunrise yang jelas fokus pada hubungan dua orang asing yang merasa dekat.

Selain itu cukup banyak isu kultur yang dikemukakan Julie pada film ini. Mulai dari cerita supir taksi rasis yang membenci etnis Arab, Yahudi dan rumania. Hingga kemunculan seorang pria yang mengaku sebagai peri namun bersikap seperti gay.

And then, enough said. This film is great, wonderful. Catchy, funny, entertaining, and more than that. It’s inspiring. One of the best journey film ever. :)

Oiya, ini link official websitenya. Check this out http://www.2daysinparisthefilm.com/


Hari sabtu kemarin, setelah nonton JiFFest. Gue dan Kaut menyempatkan gabung nonbar bersama anak-anak United Indonesia di Time Out Cafe, Pasar Festival. Awalnya gue ga berencana nonbar karena gue pikir kick offnya jam 8 sehingga gue ga mungkin ikut. Tapi tau-tau Robert nelpon dan bilang kalo kick offnya ternyata jam 10. Karena gue lagi ada di sekitar bunderan HI dan jam masih menunjukkan pukul 9 malem langsunglah gue dan Kaut meluncur ke Time Out.

Nonbar malam itu sangat spesial karena kita kedatangan teman-teman United Indonesia Bandung yang dipimpin Max dan Kang Moriss. Suasana sungguh meriah dan penuh kekeluargaan, terutama ketika ajang perkenalan yang dikomandoin oleh duo MC, Arie dan Yanu. Senangnya bisa ketemu langsung dengan teman-teman Bandung yang sebelumnya cuma bisa mengobrol di forum.

Selain itu yang bikin spesial adalah kita kedatangan tamu istimewa, yaitu Mas Sigit Budiarto. Tau dong siapa dia. atlet bulutangkis nasional Indonesia yang pernah meraih emas olimpiade. Wiih,sebagai penggemar bulutangkis senanglah gue ketemu dia. Sayang gue ketinggalan sesi foto-foto bareng Mas Sigit hehehe. Jadi emang ternyata Mas Sigit adalah fans berat Manchester United, dan Arie dkk berhasil ngajak dia gabung pada nonbar ini.

Yang lebih spesial lagi tentu karena kemenangan yang sukses dicetak Fergie babes. Yup, United menang 4-1. Giggs mencetak gol pertama hasil bola muntah dari tendangan Ronaldo. Lalu, Tevez mencetak 2 gol berturut-turut dan diakhiri gol Ronaldo melalui titik penalti. Sementara itu rival utama United, Liverpool dan Arsenal menelan kekalahan pertama mereka di ajang EPL.

Jadi sampai saat ini semua tim di EPL sudah merasakan kekalahan dan itu membuat persaingan menjadi semakin panas, seperti yang sudah diprediksikan para pengamat bahwa bulan desember dan januari adalah bulan yang paling krusial dalam perjalanan meraih trophy. Siapa yang tampil konsisten, dia yang paling berpeluang membawa gelar juara. Dan menurut gue peluang terbesar masih dipegang big four yakni Manchester United, Arsenal, Chelsea dan Liverpool. Pertarungan memanas, hell yeaaahh!!! Come on United!!

Here are the pictures :

Foto bareng di depan Time Out Cafe :

Foto di samping Time Out Cafe :

United Indonesia bareng Mas Sigit Budiarto :

Oooh Manchester!! Is Wonderfull!!

Akhirnya kesampean ngajak Kaut nonbar kekeke :

PS : Foto-foto diambil dari United Indonesia Forum.


Hari sabtu tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pertama gue nonton JiFFest tahun ini. Gue udah berencana nonton 4 Months, 3 Weeks & 2 Days dan Waiter (Ober). Di sela-sela itu gue nonton S-Express Thailand + Singapore. Gue coba review dikit ya buat yang belom nonton.

==========

4 Months, 3 Weeks & 2 Days

Director : Cristian Mungiu / Casts : Anamaria Marinca, Laura Vasiliu, Vlad Ivanov, Alexandru Potocean / 2007 / Romania / Drama/ 113 Min / Romanian (with English subtitles)

Ini cerita tentang 2 sahabat, Otilia dan Gabita, mahasiswi di sebuah kota di Rumania pada tahun 1987. Mereka terjebak pada situasi rumit ketika Gabita hamil dan berniat menggugurkan kandungannya.

Cerita bergulir kepada usaha Otilia yang diminta Gabita menemui seseorang yang dapat melakukan aborsi, karena sejak 1966 aborsi adalah tindakan ilegal di Romania. Orang itu, yang bernama Mr Bebe bersedia melakukan praktik aborsi ilegal di sebuah hotel. Ternyata situasi bertambah rumit ketika Mr Bebe menolak dibayar dengan uang, ia memilih dibayar dengan cara yang lain…

Menurut gue ceritanya menarik, konflik emosional seorang remaja yang tengah hamil dan memilih untuk menggugurkan kandungannya. Cristian Mungiu memilih tidak bertutur dengan gaya yang dinamis. Tiap adegan disuguhkan dengan statis, namun hal itu tidak membuat film ini kehilangan karakternya.

Sungguh unik melihat Cristian memaparkan adegan Otilia yang merasa terasing di tengah makan malam bersama keluarga pacarnya. Atau dengan vulgarnya ia menampilkan Mr Bebe memasukkan alat untuk aborsi ke vagina Gabita. Lalu ketika Otilia berkeliling kota malam-malam hanya untuk mencari tempat yang tepat untuk membuang janin Gabita.

Ketidak-dinamisan Cristian dalam bertutur mungkin membuat penonton sedikit bosan. Tapi hal itu mampu ia tutupi dengan detail yang bagus pada adegan-adegan yang notabene lumayan panjang. Selain itu gue sedikit merinding melihat setting Rumania pada tahun 1980-an yang dingin, kelam dan suram.

==========
Waiter (Ober)

Director : Alex van Warmerdam / Casts : Alex van Warmerdam, Ariane Schluter, Jaap Spijkers, Thekla Reuten, Mark Rietman, Line van Wambeke / 2006 / Netherlands/Belgium / Comedy / 97 Min / Dutch (with English subtitles)

Bayangkan jika kamu adalah seorang tokoh pada sebuah cerita tak berakhir dimana kemalangan tak hentinya menimpamu. Apa yang akan kamu lakukan?

Waiter bercerita tentang Edgar, seorang karakter fiksi pelayan restoran yang sering tertimpa kemalangan. Berseteru dengan customer yang cerewet, menjatuhkan sepotong steak siap saji ke lantai toilet, sampai ketidak-harmonisan dirinya dengan wanita selingkuhan adalah bagian dari kehidupannya. Di sisi lain ia punya seorang istri yang sakit-sakitan dan tetangga yang selalu ngajak ribut.

Bosan dengan kemalangan demi kemalangan yang menimpanya, Edgar protes kepada Herman (penulis yang menciptakan tokoh Edgar). Ia menginginkan cerita yang lebih menyenangkan dan indah untuk hidupnya. Masalahnya belakangan Edgar menyadari bahwa sebagai tokoh fiksi, mengontrol destiny atas dirinya sendiri tidaklah semudah yang ia bayangkan pada awalnya. Karena pada kenyataannya, pada setiap bab yang terlewati justru membawanya ke dalam berbagai problem lain yang sangat kompleks.

Dan buat guee… This is such a really great movie!!! Wonderful, extra ordinary, sophisticated and completely fascinating. Alex menciptakan suasana sunyi dan sepi namun dinamis pada tiap detik perjalanan Edgar. Tokoh Edgar yang cukup bersahaja terlihat lucu ketika menghadapi berbagai masalah yang menimpanya. Herman sang penulis juga cukup gokil ketika berantem sama pacarnya mengenai kelanjutan tokoh Edgar. Sebenarnya itulah inti kemalangan Edgar, ketidakcocokan Herman dan pacar dalam menentukan cerita membuat Edgar yang menderita kekeke..

==========

Sebenarnya di antara film-film tersebut gue juga nonton S-Express Thailand + Singapore namun sepertinya panitia menemui kendala sehingga hanya memutar film-film pendek Thailand saja. Agak kesel juga sih gue, mentang-mentang free screening kok jadi seenaknya gitu. Tau-tau film berhenti dan penonton menunggu tak jelas sambil bertanya-tanya. Baru 15 menit kemudian panitia bilang ada trouble teknis yang menyebabkan screening ga bisa di lanjutkan.

Menyebalkan memang, but it was ok. Gue cukup puas dengan 4 Months, 3 Weeks & 2 Days dan Waiter. Another great movies that made me smile.

PS : Lihat info film-film JiFFest di www.jiffest.org


Ini gue dapet dari beberapa milis :

All the reasons why you should take a week off for JiFFest 2007:

1. Catch up with all Indonesian films released in a year for FREE!

2. And we have invited every filmmakers/stars/producers/scriptwriters involved in the Indonesian films to attend the films’ screenings for Q-and-A sessions!

3. Angelina Jolie proves that she is an actor in “A Mighty Heart”, shown in our World Cinema section.

4. All ASEAN films will be screened for FREE! So be prepared to cry in tears and laughter while watching the likes of “Flower in the Pocket” and “The Blossoming of Maximo Oliveros”.

5. We are cool. We’ve got an animated film, “Persepolis”, for our opening.

6. We are so cool. We’ve got two other additional films guaranteed to charm you, i.e. “Across the Universe” and “Paprika”.

7. Our short films never look this lovelier. From France to Sweden, from Indonesia to Singapore to Malaysia to Taiwan to Thailand to Philippines, they are short, and sweet.

8. If you think Afghanistan is only about war and chaos, check our film “Afghan Muscles”, and you won’t think of the country the same way again.

9. And yes, the above film is only one of our documentary films in House of Docs worth checking out!

10. This JiFFest thing happens only once in a year!

http://www.jiffest.org/


JiFFest 2007 sudah di depan mata. Tanggal 7-16 Desember 2007 nanti Jakarta akan diramaikan oleh lebih dari 200 film dari sekitar 3o negara. Beberapa hari yang lalu setelah ngeliat info di situs resmi JiFFest, Gue dan Kaut langsung menyusun schedule buat nonton. Seperti yang pernah gue bilang di post tentang JiFFest beberapa tahun lalu. Hal yang paling sulit dalam menonton JiFFest adalah nyusun schedulenya karena jadwalnya cukup tabrakan antara waktu dan tempat sehingga harus disusun secermat mungkin.

Setelah dengan susah payah nyusun schedule gue pergi ke Aksara buat ngambil katalog dan beli beberapa tiket. Yeah langkah pertama selesai, ini beberapa film yang sudah gue dapet tiketnya :

  • Waiter (Netherlands/Belgium)
  • 4 Month, 3 Weeks, 2Days (Romania)
  • 2 Days in Paris (France/Germany)
  • Into The Wild (USA)
  • Comrades in Dreams (Germany)
  • Swedish Short : New Beginning (Sweden)
  • Swedish Short : End of a Century (Sweden)
  • The Namesake (Indi/USA)

Oiya selain yang pake tiket, lebih dari setengah film-film itu diputar gratis. Nah buat nonton yang free itu cukup datang ke tempat pemutaran untuk mengambil tiket yang sudah bisa didapat satu jam sebelumnya. Sedikit tentang ticketing, gue emang lebih senang pake sistem ticket kaya gini. Lebih simpel gitu dibanding memakai membership card seperti pada tahun lalu. Lalu sepertinya tempat pemutaran cukup strategis dan berdekatan sehingga cukup memudahkan pindah-pindah nonton film yang udah disusun. Blitz, Djakarta Theater, Goethe Haus, Kineforum dan Erasmus Huis. Semuanya berada di sekitar Sarinah dan Menteng, kecuali Erasmus Huis di Kuningan.

Buat yang mau ambil katalog dan beli tiket dateng aja ke Djakarta Theater, Blitz Megaplex, Aksara Bookstore Kemang, Plaza Senayan XXI atau 21 Cineplex Citos.

Well, JiFFest.. I’m Comiingg!!!

jiffest-tickets.jpg


Sebelumnya walaupun udah lewat, gue ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin dan selamat lebaran 1428 H :)

Seperti biasa, sebagaimana halnya tahun baru gue selalu mencanangkan bahwa setelah lebaran harus ada perubahan yang signifikan dalam hidup gue. Beberapa langkah tengah menapak menuju perubahan-perubahan itu.

Yang pertama kuliah. Gue udah semester 9, lewat1 semester dari target ideal seorang mahasiswa untuk lulus. Tapi alhamdulilah semua sks telah terpenuhi. Ya, tinggal skripsi-lah beban gue di kampus saat ini. Dan proposal skripsi gue sudah tembus dan disetujui oleh pembimbing. Sebenernya gue agak kurang yakin dengan kemampuan gue menyelesaikan skripsi berjudul “Analisa dan Perancangan Sistem Informasi Pembelajaran Berbasiskan Teknologi Video on Demand” itu. Tapi ya paling tidak itu judul yang bisa gue dapet dari kombinasi minat gue di bidang audio visual dan kenyataan bahwa gue kuliah di jurusan IT. Ga mungkin dong gue bikin film pendek atau dokumenter buat tugas akhir kekeke..

Alhamdulilah skripsinya udah mulai gue kerjakan walau masih di awal bab 2, semoga aja lancar. Tapi ada satu hal yang bikin gue agak bingung. Di tengah gue mengerjakan skripsi, sebuah post pro dimana dulu gue pernah melamar kerja sebagai menghubungi gue untuk kemungkinan bekerja di sana. Udah beberapa hari ini gue masuk untuk menjalani masa percobaan. Gue disuruh ngedit beberapa pilot project dokumenter mereka dan kalo memuaskan ya gue akan diterima jadi editor tetap. Cukup fascinating sih, mengingat saat ini ngedit video adalah hobby gue dan dokumenter adalah lahan kesukaan gue. So, hal ini cukup menantang.

Tapi ada beberapa hal yang harus gue pikirkan, skripsi masih jauh dari selesai dan pekerjaan ini full time. Gue masih mikir-mikir juga, mengingat gue masih perlu belajar banyak untuk materi skripsi gue terutama database dan programing. Gue akan butuh banyak waktu mengerjakan semua itu. Butuh manajemen waktu yang oke mengingat gue bukanlah orang yang sangat disiplin akan waktu. Tapi dari sudut pandang lain tentu gue bisa banyak belajar dari situasi ini. Toh beberapa teman gue juga sukses melakukannya Jadi.. bekerja sambil kuliah? Hmm.. we’ll see deh ya..