It’s all officially begun
Tirai itu telah dibuka dengan Community Shield di Inggris dan Super Cup di beberapa negara lainnya. BPL sudah bergulir sekitar 3 game sedangkan La Liga dan Serie A baru 1 game. Saya tidak begitu memperhatikan liga lain di Eropa selain 3 liga itu dan UCL tentunya.
Meski sudah berlangsung beberapa pekan, saya masih belum menganggap musim ini resmi dimulai kalau transfer window belum resmi ditutup, karena komposisi squad setiap tim belum final. Nah, 31 Agustus kemarin transfer window telah ditutup, maka buat saya musim kompetisi 2010/2011 resmi dibuka. Great!!
Alasan lainnya adalah kalau komposisi pemain sudah final, maka akan lebih asik ketika memainkan game bola seperti Pro Evolution Soccer 2010 (PES 2010), apalagi ketika mulai main master league. Sayang di PES 2010 ada beberapa pemain yang belum terdaftar, seperti Chicarito di United. Hmm, jadi tidak sabar menunggu hadirnya PES 2011.
Landslide transfer
Dibanding transfer window musim lalu ketika Real Madrid mengguncang dengan mega transfer Ronaldo dan Kaka, atau tukar tambah Ibrahimovic dan Etoo antara Inter dan Barca, dari sisi nominal transfer window kali ini terkesan biasa-biasa saja. Yang bisa dianggap cukup mahal mungkin hanya David Villa yang didapatkan Barca, atau Man City yang berbelanja sangat boros dan mengacaukan harga pasaran.
Buat saya transfer window ini lebih dramatis, terutama di menit-menit akhir seperti halnya permainan sepak bola itu sendiri. Kalau di awal Mourinho yang menjadi pusat perbincangan setelah hijrah ke Madrid dan membawa bintang-bintang piala dunia yang lalu, di masa akhir transfer window ini yang menjadi perhatian utama jelas AC Milan yang berhasil memboyong Ibra dan Robinho dengan proses yang terbilang kilat. Ibra dipinjam setahun dengan opsi pembelian, dan Robinho dibeli dengan harga yang tidak terlalu mengguncang.
Milan sangat cerdik, keberhasilannya mendatangkan bintang yang tak bersinar di klub lamanya itu membuatnya bergeser dari klub penuh sejarah yang hampir terlempar dari list prediksi calon juara Calcio dan UCL, kembali ke habitatnya dan menjadi penantang serius dominasi Inter Milan di Calcio dan tim-tim mapan eropa seperti United dan Barca. Memiliki 4 penyerang top sekelas Ronaldinho, Pato, Robinho, dan Ibra adalah dream come true buat para Milanisti. Mimpi melihat Milan mendominasi semua kompetisi yang mereka ikuti. We’ll see.
Manchester United dan rival-rival tradisionalnya
Sebagai suporter United, saya cukup puas dengan kinerja mereka di bursa transfer musim panas ini. Memang sudah menjadi budaya United untuk tidak memaksakan membeli pemain bintang. Chicarito jelas menjadi best bang for the buck, tepat sekali keputusan United mendatangkan anak muda itu ke Old Trafford sebelum World Cup digelar. Saat ini, meski berteknik tinggi, ia masih setengah matang. Setidaknya butuh 2-3 tahun untuk mencapai peak performance di United. Satu hal yang terlihat ia miliki dan tak dipunyai Ronaldo adalah kerendahan hati. Fergie pun memprediksi Chicarito akan seperti Solksjaer, striker kalem berjiwa pembunuh. Hening namun mematikan.
Chris Smalling juga pembelian bagus, ia diproyeksikan menjadi penerus Ferdinand nantinya. Belum terlihat istimewanya dan ketika di Fulham pun saya tak terlalu memperhatikan, namun dengan bimbingan Ferdinand dan Vidic ia berpotensi menjadi bek tangguh. Pembelian lain adalah Bebe, pemuda Portugal “entah siapa” yang didatangkan Fergie dengan harga cukup mahal untuk ukuran pemain yang sama sekali belum pernah disaksikan penampilannya. Fergie berjudi. Sebagai suporter saya sih percaya-percaya saja sama Opa
Ada satu hal yang sangat sulit dilakukan, yaitu mencari pengganti the old masters Giggs, Scholes dan Gary. Masa bakti mereka sebagai pemain United mungkin ga akan lebih dari 2 tahun lagi, terlebih Gary yang sangat rentan cedera. Ini pr terbesar United sebelum Fergie pensiun.
Posisi full back kanan masih sering dirotasi antara O’Shea, Brown, dan Rafael. Ini sektor yang paling riskan ditembus. O’Shea dan Brown bukanlah pemain dengan level istimewa, sedangkan Rafael masih belum matang. Di sektor tengah, belum terlihat ada yang mampu memiliki visi sekelas Scholes. Ketika nanti saatnya Scholes pensiun, United akan sangat merindukan kehadiran, skill, dan determinasinya, terkecuali tacklingnya ya
Posisi Giggsy sebagai winger mungkin banyak kandidat penggantinya. Tapi sebagai left winger, belum ada yang istimewa sejak Ronaldo pergi. Nani dan Park bisa dipasang di kiri, tapi biasa-biasa saja. Nani eksplosif kalo dipasang di kanan, Park terlihat sangat menikmati permainan ketika dipasang sebagai free attacking midfielder. Valencia lebih standar, meski crossingnya top class, ia cuma manjur ditaro di kanan. Mungkin ketika matang, Obertan bisa dipasang reguler di posisi itu.
Sektor depan sudah cukup ideal. Rooney dan Berba bisa dibilang belum tergeser. Chicarito adalah alternatif kedua, sementara Fergie terlihat nyaman memiliki Owen yang ga akan rewel ditaruh di bench.
Merebut kembali singgasana BPL adalah prioritas utama, gelar ke 19 wajib dikejar mumpung Liverpoool masih mencari bentuk. Akan lebih sulit ketika Liverpool sudah kembali stabil dan United yang mencari bentuk ketika Fergie pensiun beberapa musim lagi. Untuk itu saya rela UCL di-nomorduakan
Saya sepakat dengan ulasan-ulasan di media kalau yang berpotensi merebut trofi BPL masih sekitar Chelsea, United, dan Arsenal. Chelsea jelas unggulan pertama dengan sementara ini duduk nyaman di peringkat pertama dengan 9 poin dan selisih gol mantap 14-0. United yang berusaha mengejar. Sementara Arsenal, meski para young guns sudah semakin matang, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para Gooner, eksplosif? yes, tapi saya rasa masih sulit untuk konsisten musim ini. Hati Fabregas yang sudah mendua akan membuatnya angin-anginan seperti Ronaldo di musim terakhirnya bersama United.
Image sources : goal.com, soccerlens.com
Filed under: Football | Leave a Comment
Tags: AC Milan, BPL, football, Manchester United
Konser Belle and Sebastian live in Jakarta ini akan sangat rumit kalau coba diceritakan dengan kata-kata. Saya sudah mengantisipasinya dengan merekam sebagian performance Belle and Sebastian dengan kamera video. Ketiadaan kamera SLR pinjaman dari Rafeequl yang tidak diizinkan masuk oleh panitia justru membuat saya lebih konsentrasi menikmati suguhan humble Stuart dkk sambil turut bernyanyi, bergoyang, sekaligus merekamnya. Thanks a lot dear Kautsarina buat tiket kita nonton konser ini
Seperti diceritakan di atas, karena kamera ga bisa masuk, saya dan Kaut cuma bisa foto-foto sebelum dan sesudah acara saja. Paling di dalam cuma bisa ambil gambar dari hapenya Kaut, bisa diliat di sini. Selain itu lumayan juga ada photobox di loungenya A-volution di lantai atas. Sempat deh foto di situ. 5 tahun lebih bersama, baru kali ini kami bisa punya foto berdua hasil photobox.
The Videos
Ada 1 lagu Ballads of the Cliche sang pembuka konser, dan 7 lagu Belle and Sebastian yang berhasil diabadikan. Juga adegan Stuart yang -ceritanya- kehausan lalu berusaha keras berbahasa Indonesia guna meminta minum kepada “pelayan” dan lalu kemudian menyebrangi lautan penonton demi mengambil segelas bir pada bar di seberang panggung.
Cukup sulit menyisihkan waktu meng-upload 9 video ke youtube dengan koneksi Internet di rumah saya yang tak begitu kencang ini. Tapi saya cicil aja deh ya uploadnya, pelan-pelan ceritanya biar bikin penasaran
Ballads of the Cliche – Old Friend
Belle and Sebastian – Step into My Office, Baby
Belle and Sebastian – Funny Little Frog
Belle and Sebastian – Sleep the Clock Around
Belle and Sebastian – The Boy With The Arab Strap
Stuart is Thirsty
masih ada lagi.. bersambung dulu deh yah :)
Filed under: Music | Leave a Comment
Tags: ballads of the cliche, belle and sebastian, concert, music
Dengan kebijakan garansi normal 1 tahun, Macbook Pro 13 saya hanya memiliki masa garansi hingga bulan November 2010. Sebagai pengguna akhir, tentu garansi adalah hal yang sangat membuat hati tenang. Untuk MBP 13, semua kerusakan ditanggung penuh, kecuali hal yang berhubungan dengan kesalahan pengguna sendiri, seperti tersiram kopi, jatuh dari lantai 5, atau LCD pecah terlempar gamepad karena emosi kalah main PES 2010
Setelah kira-kira setengah tahun ini, baru sekali laptop saya bermasalah, yaitu ketika adaptor laptop saya terbakar. Sebenarnya sih kemungkinan karena kesalahan saya yang menyambungkan adaptor dengan kabel power biasa (seperti kabel power TV atau radio), karena kabel power bawaan MBP saya rasa terlalu panjang.
Sedih sekali karena kejadiannya cukup mengerikan. Ketika sedang digunakan, tiba-tiba sang adaptor mengepulkan asap tipis diiringi dengan bau hangus. Karena khawatir dan curiga, saya lekas mencopot adaptor dari laptop. Sejenak kemudian adaptor mengeluarkan percikan api dan suara letusan. Bagian ujung adaptor saya berwarna hitam dan berbau hangus
Untung saja kerusakan adaptor ditanggung penuh oleh Apple. Saya membawanya ke iBox Ratu Plaza untuk klaim garansi. Alhamdulillah adaptor saya diganti dengan unit baru, meski harus menunggu kiriman dari Singapura selama seminggu. Secara umum saya sangat puas dengan pelayanan purna jual dari Apple.
Namun, bagaimana jika masa garansi sudah habis? Akan sangat merisaukan hati jika menggunakan MBP tanpa dilindungi garansi. Terlebih saya menggunakannya dengan cukup intens. AppleCare Protection Plan (ACPP) hadir untuk itu. Dengan membeli ACPP, masa garansi produk Apple dapat diperpanjang. Untuk MBP 13, masa garansi bertambah 2 tahun, hanya saja tidak termasuk baterai. Sebuah produk yang bagus, karena bagaimanapun barang elektronik tak mungkin sama sekali aman dari masalah / kerusakan.
Saya berniat membeli ACPP sebelum masa garansi laptop saya habis, tapi harga yang cukup mahal membuat saya berpikir panjang untuk membelinya. bagaimana tidak, ACPP untuk MBP 13 dijual seharga Rp. 2.8 juta di Apple Store Indonesia. Cukup mahal menurut saya.
Ketika sedang menjelajah forum Mac.Web.Id (MWI), saya menemukan sebuah lapak yang menjual ACPP dengan harga miring. ACPP untuk MBP 13 dijual seharga 800 ribu rupiah. Memang tak mendapat box dan aplikasi Tech Tool, hanya kodenya saja. Setelah berselancar lebih lanjut, ternyata di beberapa forum banyak juga penjual yang menawarkan kode ACPP dengan harga miring, meski tidak semurah yang saya temukan ini.
Awalnya saya agak skeptis mengingat harga yang ditawarkan cukup jauh dari harga resminya, tapi setelah saya bertanya-tanya dengan penjualnya via Y!M, kelihatannya cukup meyakinkan. Ia bersedia menjelaskan dengan lebih detail, bahwa ia mendapatkannya dari eBay. Selain itu ia bersedia bertransaksi dengan sistem Cash on Delivery (COD), karena kebetulan tempat ia tinggal tak jauh dari lokasi saya. Kami bertemu di Bakoel Koffie Bintaro. Saya memilih bertemu di tempat yang menyediakan koneksi Internet WiFi agar saya bisa sekalian minta dibantu proses registrasinya langsung. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, penjualnya sangat membantu proses registrasi hingga selesai. Recommended seller for him.
Sekarang saya cukup tenang karena laptop saya mendapat perpanjangan nafas masa garansi hingga November 2012. Tentu saya berharap laptop saya tetap sehat selama mungkin, dan kalaupun tidak, sudah ada ACPP yang melindungi hati saya untuk kira-kira 2 tahun ke depan
====
PS : Ditengah kegembiraan saya mendapat ACPP dengan harga miring, di hari yang sama saya mendapat kabar pahit. Laptop Pandu, teman dan rekan kerja saya, hilang digondol maling.
.Turut berduka ndu, semoga mendapat ganti yang lebih baik.
Filed under: Computer | 2 Comments
Menunggu Sang Pencerah
Beberapa waktu lalu, ibu saya yang baru saja pulang dari Yogyakarta usai menghadiri muktamar Muhammadiyah ke 46 membawakan saya sebuah novel. Judulnya Sang Pencerah. Hei, terdengar tak asing. Dari beberapa media juga saya telah mendengar kalau Hanung Bramantyo sedang membuat film tentang KH Ahmad Dahlan yang berjudul Sang Pencerah.
Benar saja, ternyata novel ini merupakan karya adaptasi dari skenario film Sang Pencerah. Novel ini ditulis oleh Akmal Nasery Basral, penulis yang pernah merilis novel Imperia dan Nagabonar Jadi 2.
Ibu saya banyak bercerita tentang suasana Muktamar Seabad itu, di akhir ceritanya ia menyarankan saya untuk membaca novel itu jika sempat. Ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun lalu ketika saya bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah di Pamulang. Ada pelajaran Kemuhammadiyahan yang tentunya berisi materi segala hal tentang Muhammadiyah. Meski pelajarannya menarik, entah kenapa saya tak terlalu antusias mengikutinya. Justru pengetahuan Kemuhammadiyahan lebih banyak saya dapatkan ketika aktif di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) semasa SMP.
Saya baru membaca novel itu kemarin dan baru menyelesaikannya hari ini, ketika saya istirahat seharian di kamar karena terserang flu. Saya sudah lama tidak membaca novel dengan kisah epik seperti ini, beberapa tahun belakangan saya cenderung membaca novel kontemporer selain lebih banyak mengkonsumsi non fiksi.
Sebelum membaca novel ini, saya sudah terlebih dulu melihat trailer film Sang Pencerah. Saya makin antusias karena mengetahui aktor yang memerankan KH Ahmad Dahlan adalah Lukman Sardi, salah satu aktor Indonesia favorit saya. Otomatis ketika mata saya menelusuri baris demi baris novel itu, kepala saya turut membayangkan kisah ini saya saksikan di layar lebar.
Saya menyadari setelah lulus SMP dan tidak aktif lagi di IRM, saya kurang begitu mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, selain membaca kiprahnya di media-media atau membantu ibu saya menyusun bahan ajar guna mengajar di UMJ (Univ Muhammadiyah Jakarta). Setelah membaca novel ini, terbesit keinginan saya untuk turut aktif lagi di salah satu organisasi otonom Muhammadiyah. Entah akan terlaksana lagi atau tidak nantinya.
Film Sang Pencerah sendiri rencananya akan dirilis ketika libur Idul Fitri tahun ini. Novelnya yang seru, ditulis dengan baik dan kaya akan referensi, serta trailernya yang terlihat epik membuat saya sedikti tak sabar untuk segera menyaksikan filmnya di layar lebar. Sebagaimana judulnya, saya juga berharap kalau filmnya juga akan mencerahkan
Filed under: Movie | 3 Comments

Well, ini pembenaran. Saya terancam melewatkan Jiffest 2009 karena Reading Course. Sial.
Mungkin suatu hal yang agak berlebihan, Jiffest is just a film festival, nonton mah nonton ajah ta. Oke, satu sisi ego berbisik. Tapi kenyataan berkata lain. Akibat kelengahan tertentu (saya tak ingin menyebutnya kesibukan karena nanti dibilang sok sibuk uhuhe), jadwal Reading Course yang sebenarnya dimulai sejak awal semester 3 ini (bulan September) baru saya mulai kerjakan di awal November.
Seharusnya bukan masalah kalau proses perenungan mencari tema dan topik ideal sudah saya lakukan jauh-jauh hari. Ideal di sini saya artikan dengan : saya yang memang berminat, isunya penting, punya signifikansi akademis dan praktis yang oke, plus cenderung tidak repot saat turun ke lapangan nanti. Kenyataanya proses perenungan memakan waktu yang cukup lama.
Core utama sudah saya tentukan jauh-jauh hari, yakni New Media. Sempat terpikir bicara soal Industri Kreatif, namun karena referensi yang saya temukan kurang begitu mendukung konsep “ideal” di atas, dan pencarian mengarah pada ranah lain. Akhirnya tema bergeser ketika saya menemukan tema yang mendekati konsepsi “ideal” saya tadi. Here it comes, New Media Literacy.
Yes, dengan ini core New Media bisa dicapai dan referensi yang saya butuhkan relatif mencukupi (semoga nambah lagi), isunya menurut saya cukup penting (terutama dalam konteks sosial budaya Indonesia) yang merupakan garis potong/temu dari New Media Studies, Cultural Studies, dan juga Pedagogi serta sedikit Psikologi. Menarik untuk dikupas. Meski belum tentu mudah dalam prakteknya nanti heuheu.
The thing is, garis mati mulai mendekat. Satu minggu lagi euy. Bab 1 baru saja mendapat lampu hijau dari pembimbing saya, dan kini mesti berkutat dengan Bab 2 dalam waktu seminggu lagi. Minggu dimana distraksi dari “the coolest film event in Indonesia” -which is Jiffest- mulai melambai dan kian terasa lebay, ahahay.
Damn, lupakan Jiffest tahun ini. Saya mesti kembali bercengkerama dengan Mr Potter, Mr Jenkins, Mrs Hobbs, Mr Castells, Mr McLuhan dan teman-temannya.
So, Jiffest 2009 tak ubahnya seperti Funny Little Dream buat saya. Ehm, musik indah buat menemani minggu pagi penuh kafein. Cheers
Filed under: Campus | 2 Comments
Tags: thesis
Sedikit cerita saja. Seingat saya, sejak SD menggemari sepakbola, saya tidak pernah terlibat dalam suatu taruhan. Diajak saja tidak pernah, apalagi mengajak taruhan. Apalagi taruhan pake duit. Dosa kata guru agama saya.
Tapi minggu lalu, pesona clash of the titan antara Setan Merah dan Gudang Peluru dari London Utara, ditambah dengan sedikit adiksi pada social media yang saat ini sedang trendy-trendy-nya menggugah saya untuk terlibat taruhan.
Bermula dari informasi bahwa United Indonesia (komunitas supported Man United dimana saya bergabung) mengadakan anniversary yang ke-3 sekalian nonbar big match antara United vs Arsenal di Green Cafe, Kemang. Saya teringat untuk mengajak teman saya seorang penggemar Gunners, Rafeequl, untuk turut serta nonbar bersama saya.
Sebelumnya sudah beberapa kali saya mengajak dia nonbar. Tahun lalu, ketika United dihajar 2-1 oleh gelontoran gol kemaruk anak muda berbakat Samir Nasri yang hanya dapat dibalas gol tendangan volley youngster kribo United asal Brazil yang mengawali debutnya di EPL, Rafael da Silva. Dan semusim sebelumnya, ketika United ditahan imbang 2-2 di Old Trafford. Kedua game itu saya akhiri dengan muka manyun.
Well, kembali ke minggu lalu. Saya mengajak serta Rafeeq dan pacarnya, Vina (penggemar United juga) dan juga pacar saya, Kautsarina (pengemar saya Michael Carrick). Di tambah 2 lelaki jomblo berkualitas, Dayat dan Hirzi. Kayanya sepulang nonbar mereka berdua tak lagi jomblo karena tertarik satu sama lain deh kekeke.
Anyway, Saya mengajak mereka via Koprol, social media made in Indonesia yang mencoba menembus dominasi Twitter dan rekan2nya (go Koprol go).
link stream lengkap klik di sini
Dan kami pun berencana nonton bareng game tersebut.
Beberapa hari sebelum acara, kok saya jadi terpikir untuk iseng-iseng ngajak Rafeeq taruhan. Ga perlu pake duit, inget kata guru agama saya itu dosa. Tapi guru saya tidak bilang kalo taruhan harga diri pada social media seperti Facebook dan Koprol itu juga dosa.
Jadi..

Ya, saya menantang Rafeeq untuk mengganti profile pic FB dan Koprol-nya dengan foto diri memakai jersey United selama seminggu kalau Arsenal kalah. Dan sebaliknya, kalau Arsenal menang, saya harus mengganti profile pic FB dan Koprol saya memakai jersey Arsenal selama seminggu.
Tantangan ini disambut baik oleh Rafeeq.
link stream lengkap perang urat syaraf klik di sini
Singkat cerita, hadirlah kami malam minggu kemarin di Green Cafe, Kemang. Untuk menyaksikan game yang berujung tercorengnya harga diri seseorang. Sebelumnya, colongan foto-foto dulu lah ya kekeke.
di depan banner acara
di dalem, pose dulu, thanks to Jaka
Oke, pertandingan pun di mulai. Menit-menit awal adem ayem aja. Nothing special. United masih kagok karena ditinggal beberapa pilarnya yang cedera. Arsenal mulai mendominasi permainan, operan pendek nan cantik membuat Rafeeq tersenyum lebar, jenggotnya bergetar. Sedang saya sebaliknya, gemetar dan gelisah. Entah apa jadinya kalo saya yang sok-sok an ngajak taruhan tau-tau kalah, huhu mokal abis deh.
Tak lama, kemelut di depan gawang Ben Foster setelah menerima corner membuat Arshavin tak terjaga, siap melepas tendangan dari dalam kotak penalti United. Sukurlah Fletcher sigap dengan tacklingnya yang.. ehm cukup mengkhawatirkan. Arshavin pun jatuh. Damn, penalti nih. Untungnya wasit tak memberikan Arsenal penalti, fifty2, kena bola.. mungkin begitu pikir wasit dari sudut pandangnya. Sukurlah.
Tidak sampai 1 menit kemudian, entah bagaimana Arshavin kembali menggiring bola mendekati kotak penalti United. Ga pake basa-basi, canon ball seorang seniman sepakbola Rusia itu menghujam gawang di tiang dekat tanpa mampu ditepis Foster. Shite, 0-1. Seluruh makhluk berpakaian United di Green Cafe terdiam. Rafeeq bersorak. Saya manyun. Terpikir pose apa yang akan saya andalkan untuk di profile pic laknat itu.
ada kambing kegirangan, sial
Babak pertama cukup mengkhawatirkan buat United. Tapi tenang, Sir Alex sudah siap dengan hair dryer-nya di ruang ganti. Babak kedua pun mulai, Giggs yang tampil out of form kok tidak diganti ya? Formasi masih sama. Well, SAF always know the best for United. Oke, kembali ke layar. Singkat cerita, ditengah gempuran bertubi-tubi Arsenal ke daerah pertahanan United tak serta merta membuat United kehilangan smangat dan daya serangnya. Entah bagaimana, sodoran terobosan Giggs kepada Rooney diakhiri Almunia yang terpaksa menjatuhkan Rooney dalam kotak terlarang. Yes, penalti buat United. Rooney sendiri yang mengesekusinya dengan baik. Almunia jatuh ke kanan, Rooney placing ke kiri. Gol doong. Mantap, 1-1. Gantian, saya, Vina, Kaut, Dayat dan Hirzi mencela-cela Rafeeq. Tau-tau Pandu (gooners juga, teman sma Rafeeq) datang bela2in bawa jersey Arsenal buat saya pake. Huhu pede banget lo men kekeke.
Ga ngaruh. Oke, kembali United gantian mendominasi serangan meski one touch bocah-bocah Arsenal cukup membuat saya panik. Sampai suatu saat, United mendapat free kick di kiri pertahanan Arsenal. Giggs mengumpan ke kerumunan di kotak penalti Arsenal. Sekonyong-konyong ada manusia berbaju Fly Emirates menyundul bola itu, tepat masuk ke gawang pria yang juga berbaju Fly Emirate. Is it a plane? Noo, Is it a Supermaan? Noo. Its Diaby who scorees!! in to his own goal kekeke.. own gool people!!
Yaah sisanya sih udah ga gitu seru.Paling ada tendangan bebas Van Persie yang membentur mistar. Dan insiden injury time ketika gol Van Persie dianulir wasit karena sebelumnya Gallas terperangkap offside. Wenger pun menendang botol sebagai ungkapan kecewa, ia diusir wasit namun tak mau pergi. Adegan yang aneh.
Well, selanjutnya saya rasa biar imaji yang berbicara, Canon EOS 1000D milik Rafeeq menjadi saksi bisu kegalauan tuannya sendiri wkwkwk. Here they are..
Fans berat United. Ferguson, he loves you full!!
Rafeeq dan Pandu. Ehm Ehm
Dan puncaknya.. Selamat Vina, Rafeeq membuktikan kalau ia lelaki yang jantan. Mari kita simak hasil dari clash of the titan ini. ^^
kiri : FB profile pic – kanan : Koprol Avatar
Beberapa hari kemudian, di suatu stream Koprol. Hadir aroma revenge.
stream beraroma pembalasan
Kata orang, pembalasan itu lebih kejam. Saya belum bisa tenang, nantikan leg kedua!! Sekarang saya sahur dulu ^^
Filed under: Football | 4 Comments
Beberapa waktu yang lalu, Bentara Budaya Jakarta mengadakan pameran bertajuk ”WARISAN BUDAYA TIONGHOA PERANAKAN”. Selama pameran berlangsung, juga diadakan acara pemutaran film-film dan seminar mengenai masalah budaya/ akulturasi Tionghoa Peranakan di Indonesia.
Selasa kemarin, 20 Januari 2008, saya bersama Kaut menyempatkan pergi ke pameran itu untuk menonton pemutaran film-nya. Daya tarik utama kami datang adalah karena film Babi Buta Yang Ingin Terbang yang disutradarai oleh Edwin termasuk dalam setlist screening. Kami begitu penasaran akan film itu karena dalam beberapa kali kesempatan kami gagal menontonnya, terutama ketika film itu diputar di Kineforum beberapa bulan yang lalu. Selain Babi Buta, juga diputar beberapa filmnya Ariani Darmawan yang banyak bercerita tantang budaya dan keseharian Tionghoa peranakan di Indonesia. Kebetulan ketika kami datang mbak Ariani sedang diwawancarai oleh Husnil, senior kami di HMI Ciputat yang ternyata kini bekerja di majalah Madina.
Filmnya Edwin.
Perkenalan pertama saya dengan film karya Edwin adalah ketika saya membeli VCD kompilasi Indonesia Raja pada Jiffest tahun 2003. VCD itu didistribusikan oleh Minikino dan didalamnya terdapat beberapa film pendek yang menurut saya sangat menarik, salah satunya adalah film Edwin yang berjudul A Very Slow Breakfast, yang mengisahkan dinginnya formalitas sarapan pagi dalam sebuah keluarga. Setelah itu dalam beberapa kesempatan saya kembali menikmati film-filmnya yang lain seperti Dajang Soembi: Perempoean yang Dikawini Andjing, cerita teatrikal tentang legenda Dayang Sumbi, dan Kara, Anak Sebatang Pohon, yang memaparkan pesan tentang kapitalisme. Saya masih belum berkesempatan menonton filmnya yang lain, A Very Boring Conversation. Maybe next time.
Image is taken from : www.babibuta.com
Kembali ke Babi Buta Yang Ingin Terbang. Jujur, saya masih kesulitan menangkap substansi dari film ini. Sedikit banyak tidak seperti apa yang saya harapkan sebelumnya. Mungkin saya harus menontonnya beberapa kali lagi untuk dapat lebih memahaminya. Jadi, belum banyak yang bisa saya ceritakan selain beberapa adegan dan dialog yang menurut saya keren.
Misalnya, pada opening film yang menyajikan pertandingan bulutangkis putri antara Indonesia vs Cina yang ditampilkan slow motion. Lalu terdengar suara anak kecil bertanya kira-kira seperti ini, “Ini yang Indonesia yang mana bu?”
Atau ketika tokoh Linda kecil bertanya kepada Cahyono, sahabatnya.
”Nanti kalau kamu sudah besar, kamu mau jadi apa?”
”Apa aja deh, asal bukan Cina..”
Begitulah, pokoknya nanti harus nonton film ini lagi. Hehe.
Filmnya Ariani Darmawan.
Film Ariani yang pertama menyapa saya adalah The City of Desire, film pendek yang juga termasuk dalam setlist VCD kompilasi Indonesia Raja. Lalu film-filmnya yang lain baru saya tonton pada pameran ini.
Anak Naga Beranak Naga, dokumenter yang menceritakan akulturasi budaya Cina dengan pribumi terutama Betawi dalam bentuk kesenian Gambang Kromong. Film ini menggambarkan bagaimana sejarah bangsa Cina di Batavia, terutama kaum menengah ke bawah, yang terusir hingga ke wilayah selatan Jakarta seperti Bogor dan Tangerang. Mereka menyatu dengan masyarakat setempat hingga sekarang. Disisi lain, Ariani menyiratkan keprihatinan hampir musnahnya kesenian Gambang Kromong hasil akulturasi ini akibat putus generasi karena minimnya generasi muda yang tertarik mempelajari Gambang Kromong.
Lalu ada The Anniversary, film pendek yang bercerita tentang dingin dan muramnya potret suami istri yang dikisahkan dalam setting sebuah lift, dan Sugiharti Halim, film pendek tentang seorang wanita keturunan tionghoa yang mempertanyakan namanya yang dibuat-buat seperti nama Indonesia.
Image is taken from : http://9808films.wordpress.com/
Menyenangkan kembali menikmati pemutaran film di Bentara Budaya. Sudah lama saya tidak pergi kesitu. Sayang perpustakaannya sudah tidak ada. Padahal asik sekali menghabiskan waktu membaca buku seharian disana.
Filed under: Movie | 1 Comment
Golden The Pony Boy
Saya baru menyadari kalo di soundtrack The Science of Sleep ada satu lagu yang bener-bener menghanyutkan. Sebelumnya saya terlalu fokus sama lagu If You Rescue Me. Lagu itu adalah Golden The Pony Boy, dinyanyikan oleh Kimiko Ono.
Dalam film The Science of Sleep, Golden The Pony Boy adalah nama sebuah boneka kuda milik Stephanie. Dia menamakannya demikian ketika Stephane melihat boneka kuda itu dan menanyakan namanya kepada Stephanie. Sebenarnya boneka kuda itu tidak memiliki nama tapi Stephanie langsung menyebut Golden The Pony Boy. Ia terinspirasi dari rambut pony-nya Stephane. Sayang Stephane tidak menyadari kalau ia menjadi inspirasi pemberian nama kuda itu.
Here is Golden The Pony Boy :
Picture is taken from http://www.director-file.com/gondry/
Here is the song’s lyric :
Cotton and cardboard, cellophane and paper, thread, needle to employ,
All felt and fabric, birds fly and cats play.
Golden the pony boy,Made out of cloth and standing so still, just like a simple toy.
Gray as the sky on a day without sun,
Golden the pony boy.Screwdrivers, rubber bands, glue guns and pliers, tools to create or destroy.
Patiently waiting, un-calculating,
Golden the pony boy.
Flying wheels and coloured reels,
Spin into motion,
Bringing him lots of joy,
Trot, canter, gallop,
Over land and sea,
Golden the pony boy
Filed under: Movie, Music | 1 Comment
Sejauh ini September 2008 bukanlah bulan seperti yang gue harapkan sebelumnya. Unexpected.
Awalnya gue sangat menantikan bulan ini karena tepat tanggal 1 September 2008 gue mulai menjalani masa kuliah lagi di Manajemen Komunikasi UI. Kuliahnya menyenangkan meski membingungkan, maklum udah lama ga belajar ilmu sosial yang abstrak-abstrak hehe. Teman-teman sekelas juga menyenangkan ditambah suasana perkuliahan yang cukup kondusif dan dosen yang pintar-pintar.
Baru seminggu menjalani rutinitas kuliah gue terserang penyakit. Tepat ketika pulang ke rumah setelah kuliah terakhir minggu pertama (hari kamis) gue demam, badan panas, tulang ngilu-ngilu dan muncul bintik-bintik di lengan. Gue curiga kalo ini gejala demam berdarah, pergilah gue ke dokter esoknya. Ternyata, gue kena penyakit yang datang benar-benar pada waktu yang tidak tepat. Kata dokter gue kena virus varicella zoster, ya benar sodara-sodara, gue kena cacar air. Ini bukan penyakit yang terlalu berbahaya namun cukup menyita waktu proses penyembuhannya. Sampai saat ini gue sudah 2 minggu absen kuliah, itu berarti 2 sesi untuk masing-masing mata kuliah. Ketinggalan materi cukup membuat kepala pusing berpikir bagaimana mengejarnya. We’ll see lah, semoga bisa masuk secepatnya.
Kena cacar di bulan September juga berarti gue melewati hari ulang tahun bersama si varicella zoster ini. Untungnya setelah diopname sekitar seminggu gue bisa pulang tepat di hari ulang tahun gue, Senin 15 September kemarin. Sorenya Kaut menjenguk gue sambil ngajak Ano, Ezy, Irfan dan lalu menyusul Diah dan Adrie. Thanks a lot honey, you gave me a nice cardigan for the birthday gift. Really love it Kautsarina ^ ^
Satu hal yang juga cukup menyesakkan, kabar buruk dari Anfield. United dikalahkan Liverpool, first time in the last 3 years. Congrats for Rafa then. Setelah itu United ditahan imbang Villareal di Old Trafford. Menambah trend lambannya start United di awal musim ini. Sedihnya juga gue ga bisa gabung sama anak-anak United Indonesia untuk nonton bareng di MU Cafe. Padahal udah dari jauh-jauh hari niatin dateng. Gue pesimis bisa kembali nonbar minggu ini ketika United kembali berjumpa Chelsea di Stamford Bridge, tapi setidaknya gue berharap game lawan Chelsea bisa menjadi turning point United untuk kembali berlari dalam maraton BPL musim ini. Apalagi terbuka kesempatan United untuk menghentikan unbeaten records Chelsea di Stamford Bridge. Believe.
Well, bulan September masih tersisa sepertiga-nya. Dan gue berharap it turns to be a nice September that i expected. Great ramadhan meski gue baru puasa 7 hari hehehe.
Filed under: Life | Leave a Comment
9 bulan mati, lalu hidup lagi.
Blog ini mati 9 bulan lamanya. Terakhir kali gue menulis sekitar bulan desember 2007 ketika lagi seru-serunya liburan dengan nonton JiFFest. Setelah itu gue meninggalkan semua aktivitas yang ga ada hubungannya sama skripsi.
Ya, mulai Januari 2008 gue coba konsentrasi sama skripsi yang lama tertunda. Alhamdulillah skripsinya telah selesai dan gue lulus sidang tanggal 12 Juni 2008, lalu wisuda sebulan kemudian. Resmilah gue menyandang gelar Sarjana Komputer.
And then, what am i doing right now?
Sekitar bulan april ketika lagi stuck sama skripsi, gue ngeliat UI lagi membuka pendaftaran mahasiswa pascasarjana. Sialnya gue belum lulus sehingga ketinggalan gelombang pertama. Maka begitu mengetahui ada penerimaan gelombang kedua yang dilaksanakan di bulan Juli, gue mulai termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi. Gue kebut skripsi dalam waktu 2 bulan hingga gue lulus dan bisa daftar pascasarjana di UI. Alhamdulilah lagi gue diterima walau awalnya sangat pesimis karena tes masuknya yang buat gue cukup sulit.
Well, here i am. Gue kembali menjadi mahasiswa. Kalau ketika S1 gue mempelajari IT di jurusan Sistem Informasi, di S2 ini gue kembali ke cita-cita lama gue untuk mempelajari social science dengan Ilmu Komunikasi. Beberapa teman dan dosen menyayangkan keputusan gue karena bidang ilmu yang tidak linear. Tapi gue yakin bahwa semua ilmu akan bermanfaat. Pertimbangan utama gue memilih bidang ilmu ini adalah karena minat, satu hal yang bukan merupakan pertimbangan utama gue ketika dulu kuliah S1.
Beberapa waktu lalu, ketika baru lulus, masih samar-samar apa yang menjadi tujuan gue ke dapan. Namun pelan-pelan gue mulai menemukan apa kiranya yang akan gue capai dengan apa yang sedang gue lakukan saat ini. I dont think i can explain about it yet, just let it flow for a while.
Filed under: Campus, Life | 3 Comments
Recent Entries
- It’s all officially begun
- Belle and Sebastian live in Jakarta : Beatfest 2010
- AppleCare Protection Plan, nafas lebih untuk MBP 13
- Menunggu Sang Pencerah
- Reading Course = Things Get Worse ?
- Antara Manchester, London, dan Jakarta.
- Pemutaran Film Budaya Tionghoa Peranakan di BBJ
- Golden The Pony Boy
- September 2008 : Kuliah, varicella zoster, tambah tua dan start lamban Manchester United.
- 9 bulan mati, lalu hidup lagi.
- JiFFest 2007 : Day Two











